Langsung ke konten utama

Keanehan Ramadlan yang Tidak Aneh (Ramadlan 11)


Jika dilihat dari grafiknya, antusiasme masyarakat di negeri ini berkaitan dengan Ramadlan itu sangat tinggi di awal, menurun di tengah, dan meninggi lagi menjelang akhir. Salah satu indikatornya bisa dilihat di pelaksanaan-pelaksanaan ritual ibadah. Seperti shalat tarawih dan shalat subuh.
 
Di sisi lain, ada grafik yang meningkat. Grafik tersebut berkaitan dengan hingar bingar lalu lintas materialisme di bulan Ramadlan. Misalnya, semakin mendekati akhir Ramadlan perilaku konsumtif, belanja apa saja semakin meningkat. Atau kegiatan buka bersama semakin sering diadakan.

Secara tidak langsung keadaan tersebut menandakan bahwa masyarakat di negeri ini masih terkungkung pada keadaan yang terbalik. Ramadlan yang secara esensial bertujuan membangun kualitas manusia malah grafik peningkatan dalam hal esesnsinya tidak stabil. Kuantitas, materi yang hanya berposisi sangat-sangat sekunder bagi hidup manusia justru menjadi perhatian khusus dan terus mengalami peningkatan grafik yang konstan dan signifikan.

Keadaan tersebut anehnya, terus saja terjadi setiap tahun. Tanpa ada perubahan. Malah semakin akut keadaan keterbalikannya. Anehnya lagi, keadaan tersebut tidak dijadikan sebagai referensi untuk berubah menjadi lebih baik.

Namun, kata aneh tersebut dalam frame berpikir mainstream menjadi tidak berfungsi karena dianggap sebagai hal yang wajar, tidak ada yang aneh lagi. Justru, kalau tidak seperti itu malah menjadi aneh. Masa sekolah, universitas mengajarkan ambisi, kemegahan, kepemilikan melimpah kita kok malah hidup sabar, tenang, tidak agresif. Masa umumnya manusia itu kalau melakukan sesuatu harus ada pamrih materi kita kok malah menolaknya. Masa semakin konsumtif dianggap semakin makmur hidupnya kita kok malah menyesalinya.

Pada akhirnya, akan timbul suatu pertanyaan. Seriuskan manusia menganggap Ramadlan itu ada ? Jangan-jangan hanya sebatas basa-basi formal karena sudah menjadi budaya warisan. Mbangane sepi, mbangane ora rame, mbangane ora ono opo-opo, lumayan ono Ramadlan, dadi urip ki ono variasine sithik (daripada sepi, daripada tidak rame, daripada tidak ada apa-apa, lumayan ada Ramadlan, jadi hidup ada variasinya sedikit). 

Komentar