Jika dilihat dari grafiknya, antusiasme masyarakat di negeri ini berkaitan dengan Ramadlan itu sangat tinggi di awal, menurun di tengah, dan meninggi lagi menjelang akhir. Salah satu indikatornya bisa dilihat di pelaksanaan-pelaksanaan ritual ibadah. Seperti shalat tarawih dan shalat subuh.
Di
sisi lain, ada grafik yang meningkat. Grafik tersebut berkaitan dengan hingar
bingar lalu lintas materialisme di bulan Ramadlan. Misalnya, semakin mendekati
akhir Ramadlan perilaku konsumtif, belanja apa saja semakin meningkat. Atau
kegiatan buka bersama semakin sering diadakan.
Secara
tidak langsung keadaan tersebut menandakan bahwa masyarakat di negeri ini masih
terkungkung pada keadaan yang terbalik. Ramadlan yang secara esensial bertujuan
membangun kualitas manusia malah grafik peningkatan dalam hal esesnsinya tidak
stabil. Kuantitas, materi yang hanya berposisi sangat-sangat sekunder bagi
hidup manusia justru menjadi perhatian khusus dan terus mengalami peningkatan
grafik yang konstan dan signifikan.
Keadaan
tersebut anehnya, terus saja terjadi setiap tahun. Tanpa ada perubahan. Malah
semakin akut keadaan keterbalikannya. Anehnya lagi, keadaan tersebut tidak
dijadikan sebagai referensi untuk berubah menjadi lebih baik.
Namun,
kata aneh tersebut dalam frame berpikir mainstream menjadi tidak berfungsi
karena dianggap sebagai hal yang wajar, tidak ada yang aneh lagi. Justru, kalau
tidak seperti itu malah menjadi aneh. Masa sekolah, universitas mengajarkan
ambisi, kemegahan, kepemilikan melimpah kita kok malah hidup sabar, tenang,
tidak agresif. Masa umumnya manusia itu kalau melakukan sesuatu harus ada
pamrih materi kita kok malah menolaknya. Masa semakin konsumtif dianggap
semakin makmur hidupnya kita kok malah menyesalinya.
Pada
akhirnya, akan timbul suatu pertanyaan. Seriuskan manusia menganggap Ramadlan
itu ada ? Jangan-jangan hanya sebatas basa-basi formal karena sudah menjadi
budaya warisan. Mbangane sepi, mbangane
ora rame, mbangane ora ono opo-opo, lumayan ono Ramadlan, dadi urip ki ono
variasine sithik (daripada sepi, daripada tidak rame, daripada tidak ada apa-apa, lumayan ada Ramadlan, jadi hidup ada variasinya sedikit).
Komentar
Posting Komentar